Jumat, 28 Juni 2019

Catatan Perjalanan ke Gunung Dempo 3159mdpl Sumatera Selatan

Oke guys setelah sekian lama tidak menuliskan cerita perjalanan, kali ini penulis akan menceritakan sebuah pengalaman berharga yang didapat saat menggapai 2 puncak yang berada digunung dempo yaitu Top Dempo dan Top Marapi. Awal cerita pendakian dimulai dengan adanya kabar dari adik sepupu penulis yang berada di Lahat memberi kabar bahwa karang taruna ditempat tinggalnya akan mengadakan pendakian gunung dempo 3159 yang dijadwalkan h+4 setelah lebaran. Setelah mendapatkan kabar tersebut, penulis sempat ragu ingin ikut karena disatu sisi fisik belum mendukung dan sisi lainnya berpikir ini kesempatan yang bagus untuk mendaki. Setelah berpikir yang matang, akhirnya penulis akan ikut dalam pendakian tersebut dan lalu meminta izin kepada orang tua bahwa ingin mendaki gunung dempo bersama adik sepupu dan karang taruna diwilayah nya. Pada H-7 lebaran adik sepupu mengabarkan bahwa pendakian tersebut belum jelas jadi atau tidaknya dan setelah mendapat kabar tersebut penulis merasa sedih dan sempat berpikir bahwa menggapai atap Sumatera Selatan itu hanya angan-angan bagi penulis. Tetapi, kabar baik menghampiri penulis h-3 lebaran idul fitri soalnya adik sepupu mengabarkan bahwa pendakian ke gunung dempo akan tetap jadi walaupun mundur 1 hari dari jadwal semula pendakian dan tanpa pikir panjang penulis pun langsung mencari tiket kereta api pp untuk palembang-lahat dan lahat-palembang tetapi penulis hanya mendapatkan tiket kereta api lahat-palembang. Pada H+2 lebaran penulis berangkat ke Lahat menggunakan kendaraan pribadi bersama kakak sepupu, istri dan anaknya yang kebetulan mereka juga akan ke Lahat. Singkat cerita pada H+3 lebaran tepat pada hari sabtu penulis bersama 11 orang lainnya terdiri dari 8 orang laki-laki dan 3 orang perempuan berangkat ke Pagaralam mengunakan kendaraan bermotor. Setelah perjalanan sampai diwilayah pagaralam, ada 1 perempuan yang bergabung dengan kami langsung menuju ke pasar yang ada di Pagaralam untuk membeli bekal pada saat pendakian. Setelah dari pasar, penulis dan rombongan langsung menuju ke kampung IV untuk beristirahat menyiapkan segalanya untuk pendakian besok pagi. 



Dokumentasi saat menuju 
ke kampung IV

Setelah sampai di kampung IV, penulis beserta rombongan menginap disebuah rumah. Pada saat ingin beristirahat, datang 1 orang untuk menginap bersama kami karena katanya dia ditinggal oleh rombongan nya. Pada tengah malam, kami kedatangan 2 orang lagi untuk mendaki gunung dempo keesokan harinya. Jadi total 14 orang yang akan mendaki gunung dempo. Hari yang ditunggu pun tiba, sebelum melakukan pendakian, kami melakukan packing ulang barang-barang yang telah dikeluarkan pada saat istirahat semalam. Setelah itu kami sarapan pagi diwarung yang merupakan warung satu-satunya di kampung IV. Pada pukul 8 pagi, kami memulai pendakian ke gunung dempo dengan semangat dan gembira karena kebanyakkan kami pendaki pemula yang ingin menaklukkan gunung dempo. Dari kampung IV ke titik pendakian awal memakan waktu sekitar kurang lebih 40 menit yang melewati perkebunan teh yang sangat sejuk dipagi hari.


Titik Awal Pendakian
 Gunung Dempo via Kampung IV

Setelah puas berfoto di titik pendakian gunung dempo via kampung IV, kami melanjutkan perjalanan yang rute sesungguhnya mulai dari titik ini. Jalur khas kehutanan yang menanjak dan banyak akar-akar pohon yang sangat membantu dalam perjalanan. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 1 jam, kamipun sampai dipintu rimba yang merupakan batas dengan jalur pendakian. Disini sempat beristirahat sebentar dengan berfoto-foto sebentar dan berdoa sebelum memulai pendakian.

Pintu Rimba via Kampung IV

Setelah berfoto dan berdoa, kamipun melanjutkan perjalanan yang track jalannya lumayan menguras tenaga karena menanjak dan ditambah sedikit licin karena semalam daerah sekitar gunung dempo di guyur hujan yang lumayan deras. Walaupum sedikit licin, kami masih sangat bersemangat untuk melakukan pendakian ini. Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11:50, kamipun tiba di shelter 1 yang merupakan tempat istirahat para pendaki untuk sekedar meluruskan anggota badan ataupun memasak disni karena tanah nya datar. Kami pun memutuskan untuk istirahat di shelter 1 sambil memasak mie dan teh hangat dan ada yang mengambil air untuk persediaan selama pendakian.

Shelter 1 via Kampung IV

Setelah semua merasa siap, kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke shelter 2 yang merupakan tempat istirahat yang kedua bagi para pendaki. Selama perjalanan dari shelter 1 ke sheler 2 mulai terasa lebih sulit dari sebelumnya karena jalannya semakin menanjak. Hal yang tidak diinginkan terjadi pada penulis. Saat ingin melewati dinding lemari, kaki kiri penulis merasakan keseleo  karena salah tumpuan saat ingin melewati dinding lemari. Disana penulis berhenti sebentar dan dibantu oleh anggota memijit kaki penulis yang kram tersebut. Alhamdulillah ada pendaki lain yang dari palembang mereka mau turun dan kebetulan mereka membawa cream untuk menghilangkan rasa nyeri dan mereka memberikan semuanya kepada kami. Sekitar 10 menit penulis berhenti di dinding lemari, penulis dan salah satu anggota tadi melanjutkan perjalanan karena kami berdua telah ditunggu rombongan lainnya di atas. Pada saat itu penulis sudah mau merasa menyerah untuk mendaki tetapi diperjalanan kami bertemu rombongan lain yang mau turun dan ada salah satu anggota nya "maaf" kekurangan fisik yang pada saat itu di pandu untuk turun. Setelah melihat itu, penulis merasa abang itu aja sanggup kenapa saya tidak bisa! Selama perjalanan penulis bersemangat kembali untuk melakukan pendakian. Sekitar pukul 15:30 sore kamipun tiba di shelter 2 yang cuacanya semakin dingin. Disini kami hanya beristirahat sebentar sambil membuat teh hangat dan kopi. Sekitar 40 menit beristirahat disana, kami sempat berdiskusi kecil tentang apakah tetap melanjutkan perjalanan ke pelataran gunung dempo dan mendirikan tenda disana atau berhenti di shelter 2 tetapi keputusan tetap akan melanjutkan perjalanan yang jalannya semakin sulit. Selama perjalanan banyak ketemu pendaki lain yang berasal dari palembang, lahat, pagaralam dan bahwa dari curup bengkulu. Setelah 1 setengah jam kamipun sampai di cadas atau biasa disebut badas oleh warga pagaralam. Cadas merupakan jalan bebatuan menanjak dan licin apabila hujan terjadi. Tidak terasa waktu maghrib pun tiba kami beristirahat sebentar sambil mencari pendaki lain yang membawa lampu penerangan. Alhamdulillah ketemu pendaki lain dan kamipun ikut bergabung sama mereka. Pada pukul 19:00 malam kami tiba di puncak dempo tetapi tidak berhenti karena hari semakin gelap dan gerimis hujan mulai turun. Setelah setengah jam perjalanan dari top dempo, kami tiba di pelataran gunung dempo yang merupakan tempat istirahat yang datar dan sangat luas. Salah satu anggota mencari tempat untuk memasang tenda dan baru 1 tenda yang dipasang hujan deras pun tiba dan meneruskan mendirikan 2 tenda lainnya agar dapat beristirahat. Pada saat hujan terjadi, kami orang 6 dalam 1 tenda kelaparan dan salah satu dari mereka berinisiatif untuk memakan mie yang belum direbus yang ada didalam tas persedian. Kamipun mengambil 4 buah mie dan berbagi dengan 6 orang. Setelah hujan sedikit berhenti, 2 orang pindah ke tenda yang lainnya sehingga penulis didalam tenda dengan 3 orang lainnya. Penulis pun mulai merasakan kedinginan pada tangan dan kaki yang sangat hebat sehingga sulit untuk tidur. Pada jam 1 dinihari, hujan badai pun tiba sehingga tenda pun mulai tergenang air hujan dan yang lainnya terbangun lalu mencoba untuk menghilangkan genangan air yang berada di sekitar tenda. Suara burung mulai berkicauan dipagi hari membangun kami semua dan lalu membagi 2 kelompok untuk menuju top marapi untuk melihat kawah dari gunung dempo. Team 1 yang terdiri dari penulis dan beberapa orang melakukan pendakian menuju ke top marapi yang memakan waktu normal sekitar 30 menit tetapi penulis dan yang lainnya sekitar 1 jam. Rasa lelah, letih, dan rasa ingin menyerah pada saat pendakian itu terbayar semuanya akan keindahan alam yang sangat luar biasa dilihat dari top marapi dan warna kawah nya yang lumayan indah walaupun tidak sesuai yang diinginkan mendapatkan warna biru ataupun hijau secara menyeluruh tapi penulis cukup bahagia karena kawahnya terdapat warna biru nya yang bercampur warna abu-abu. Penulis sangat bahagia dan berteriak dari top marapi karena salah satu mimpi penulis untuk mencapai puncak tertinggi wilayah Sumatera Selatan akhirnya tercapai. Kamipun mengabadikan momen indah dengan kamera DSLR yang sengaja dibawa karena ditakutkan baterai ponsel yang lainnya kehabisan baterai selama perjalanan.




Top Marapi dempo 3159mdpl

Setelah puas mengabadikan kenangan, kamipun turun kembali ke pelataran untuk melakukan persiapan untuk kembali turun ke kampung IV dan bergantian dengan anggota yang lainnya. Setelah sampai di pelataran, anggota yang lainnya menuju ke top marapi dan para perempuan memasak nasi dan yang lainnya untuk makan siang sebelum turun ke kampung IV kembali. Sebelum anggota lainnya turun, penulis menyempatkan diri berfoto sebentar di pelataran gunung dempo.

Pelataran Gunung Dempo

Setelah anggota yang lain sampai kembali ke pelataran, sebagian anggota mulai melakukan packing seluruh alat yang digunakan untuk kembali di masukkan ke dalam tas dan sebagian menjemur peralatan yang basah pada saat hujan semalam. Setelah makan dan semuanya telah masuk kembali ke dalam tas, pada pukul 14:00 kamipun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kampung IV. Kami kembali berhenti sebentar dan berfoto di top dempo sebelum melakukan perjalanan kembali ke kampung IV.

Top Dempo 3159mdpl

Sekian cerita dari penulis kali ini yang bercerita pengalaman pendakian gunung dempo 3159mdpl. Cerita pada saat turun tidak penulis muat dalam catatan ini karena ada hal yang kurang baik untuk di ceritkan. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca pengalaman pendakian penulis ke gunung dempo. Penulis akan memberikan saran atau masukan apabila ingin melakukan pendakian yang penulis ketahui :
1. Siapkan fisik dan mental yang kuat karena mendaki gunung dempo bukan perkara hal yang mudah.
2. Siapkan alat-alat dan obat-obatan yang cukup sehingga meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
3. Jaga tingkah laku dan perkataan selama pendakian. Apabila melihat sesuatu hal yang tidak diinginkan, cukup kita yang tau dan diceritakan saat sudah melakukan proses pendakian.
4. Bawa kembali sampah jangan meninggalkan sampah apapun selain jejak kaki dan kenangan.

Berikut foto dokumentasi lainnya selama pendakian :